
Ketoprak Tobong Wujud Eksistensi Ruang Publik
YOGYAKARTA – Ditengah gempuran budaya global, Ketoprak Tobong harus tetap hidup. Seni Ketoprak Tobong ini merupakan wujud eksistensi ruang publik bagi masyarakat.
“Ketoprak tobong merupakan bentuk praktek pertunjukan teater tradisi yang hakekat menunjukan eksistensi ruang publik,” kata Pimpinan Paguyuban Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya, Risang Yuwono seusai dialog budaya dan gelar seni, di Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY digelar Jogja Semesta.

Lebih jauh Risang menjelaskan, terjadinya sinergi antara kampung, komunitas dan kraton, dimana kebudayaan, praktisi seni dan masyarakat menyatu bertemu dalam Ketoprak Tobong.
Sementara itu Ketoprak Tobong, sambung yang pria yang genap 35 tahun ini, menjawab kegelisahan para pemain 1-2 tahun terakhir, kurang diperhatikan agar bisa kembali bermain atau pentas Ketoprak.
“Untuk kaum millinial melalui Ketoprak Tobong, saya sampaikan jangan terlalu tergila-gila pada budaya asing. Cari yang unik di kampung sendiri, kemudian dikemas menjadi pertunjukan wisata,”pesannya.
Risang juga mengajak masyarakat atau teater seni bermain di Tobong Kelana Bakti Budaya, yang ada di Brayut Wukirsari Cangkringan Sleman.

Dalam kesempatan tersebut Risang juga mengajak Brilliana Arfira Desy, aktris pemeran Yu Ning di film pendek yang berjudul Tilik, untuk ikut ambil bagian dalam melestarikan budaya tersebut.
Sementara itu, Yu Ning mengatakan karakteris desa memiliki ciri khas tersendiri, dimana ciri khas desa merupakan potensi yang perlu digarap dengan baik. (njar)