Dirjen Dukcapil Minta Dukcapil Jangan Mandek, Kembangkan Inovasi dan Kolaborasi

 Dirjen Dukcapil Minta Dukcapil Jangan Mandek, Kembangkan Inovasi dan Kolaborasi

Pecatu – Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh selalu menekankan penting kolaborasi antartingkat pemerintahan untuk meningkatkan kualitas layanan administrasi kependudukan. Dirjen Zudan mengatakan, masih perlu faktor kedua, yakni membangun peran serta masyakat.

“Untuk membangun peran serta masyarakat perlu sosialiasi terus menerus. Alat sosialiasi yang paling baik itu harus punya produk yang baik. Bukan kata-kata, tetapi produk atau inovasi pelayanan yang unggul,” kata Dirjen Zudan saat mengunjungi pelayanan adminduk di desa percontohan Perbekel Pecatu, Jl. Raya Uluwatu Pecatu, Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (2/3/2023).

Dalam kunjungan kerjanya Dirjen Dukcapil didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unit Ditjen Dukcapil Ninuk Triyanti Zudan beserta jajaran pengurus DWP Dukcapil pusat. Hadir pula Direktur Pendaftaran Penduduk David Yama, Kadis Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMD-Dukcapil) Provinsi Bali Putu Anom Agustina, Kadis Dukcapil Badung A.A. Ngurah Arimbawa, dan Perbekel (Kades) Pecatu I Made Karyana Yadnya.

Zudan menyampaikan output Disdukcapil adalah 24 jenis dokumen kependudukan, bisa dikerjakan di kecamatan, hingga ke desa/kelurahan. Di Disdukcapil Kabupaten Badung Zudan mengapresiasi inovasi Telunjuk Sakti Desa. Yakni berupa Kios Adminduk Daring yang dibangun oleh Disdukcapil Badung hingga di kantor desa/kelurahan. Ini merupakan inovasi untuk mempermudah dan mendekatkan pelayanan kependudukan kepada masyarakat serta membantu masyarakat dalam mengakses pelayanan online. “Contoh bagus hari ini agar terus diperbaiki, bagian yang kurang disempurnakan. Masih kurang sempurna, ya disempurnakan lagi,” katanya.

Persis seperti yang dilakukan Ditjen Dukcapil yang terus mengembangkan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). “Pertama kali saya masuk tahun 2015 itu masih SIAK versi 3, sekarang SIAK versi 8. Kita perbaiki terus menerus. Jangan merasa ini sudah paling baik. Ketika di satu titik kita berhenti, inilah awal bencana. Kita berhenti sedangkan yang lain bergerak maju terus,” tuturnya mengingkatkan.

Zudan selalu mengungkapkan best practice atau contoh terbaik transformasi tanpa henti di industri telko.
yang tidak pernah mengatakan produk hari ini yang terbaik. Mulai dari telepon rumah. Kemudian berkembang pager untuk mengirimkan pesan teks. Selanjutnya berdiri Wartel, dan terus berkembang tidak hanya mengirimkan voice tetapi juga mengirimkan data berupa teks dan gambar di Warnet.

Sekarang produk itu sudah hilang semuanya, karena tidak dikembangkan lagi. Sebab, bila terus dikembangkan cost-nya lebih mahal. Telkom tidak berhenti untuk mengembangan yang lebih baik lagi. Teknologi mobile phone terus berkembang dari generasi 2G hingga sekarang 5G. Sistemnya pun terus berkembang dari teknologi Symbian ke Android dan sekarang IoS.

“Bayangkan kalau Dukcapil tetap bertahan dengan SIAK versi 3, yang dokumennya masih harus dicetak di kertas security, tanda tangan basah dan cap. Di KTP belum ada kolom golongan darah. Maka Dukcapil terus mengembangan SIAK,” ujarnya seraya menitipkan pesan gamblang bahwa aparatur pemerintahan tidak boleh mengatakan inovasi hari ini yang terbaik, setelah itu selonjoran dan kipas-kipas. “Lakukan perbaikan terus menerus.”

Sama seperti KTP digital atau IKD, menurut Zudan, adalah yang terbaik saat ini, di zaman ini. “Ke depan mungkin 10 tahun lagi, data kependudukan nggak di ponsel lagi. Bisa di frame kacamata, atau di jam tangan. Suatu ketika nanti dokumen kependudukan kita ada di chip yang ditanamkan di tangan kita.”

“Itu adalah perkembangan teknologi yang tidak bisa kita halau. Maka birokrasi tidak boleh berhenti di satu titik, melainkan harus berkembang maju terus menerus,” tambahnya.|rls

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *