
Lurah Senen : Saya Tidak Menyangka Jadi Lurah
SOSOK Sauri, Lurah Senen yang mencintai pekerjaannya merupakan Lurah yang sangat dekat dengan warganya.
Bagi Sauri, menjadi Lurah merupakan kepercayaan yang harus di jaga. Bahkan ia pun tidak menyangka bisa menjadi Lurah di lingkungan pusat kota yang jumlah penduduknya cukup padat.
“Saya tidak terpikir bisa menjadi Lurah disini. Ini hanyalah nasib saja,” kata Sauri, saat di temui di Kelurahan Senen, Jakarta Pusat, Selasa (25/5/2021).
Pria asal Bandung yang sudah 36 tahun mengabdi di Pemprov DKI ini, mengaku bekerja di Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sejak tahun 1985, dan lebih banyak membidangi di Bagian Pemerintahan.
Namun sejak Februari 2019 ia dipercaya untuk memimpin Kelurahan Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Berbagai upaya pembenahan terus dilakukannya, sejak ia menjabat sebagai Lurah Senen, dari mulai Kantor Kelurahan yang tidak terawat, pelayanan kepada masyarakat, hingga berbagai sarana dan prasarana penunjang bagi warga masyarakat pun terus ia benahi.
Prihatin Kantor Kelurahan
Saat pertama kali menempati Kantor Kelurahan Senen, Sauri merasa prihatin dengan kondisi kantor yang tidak terawat, perlahan-lahan ia pun membenahinya, hingga saat ini Kantor Kelurahan tersebut terlihat lebih terawat dan lebih indah.
“Saya Prihatin dengan keberadaan Kantor Kelurahan Senen ini, kantornya saja tidak terawat. Seharusnya kantor Kelurahan itu di buat senyaman mungkin, sebab di Kantor inilah kita memberikan pelayanan kepada warga masyarakat. Maka mulai kita tata Kantor terlebh dahulu, baru kita tata keluar, kalau Kantor ini sudah nyaman di datangi warga, baru kita mulai untuk menata di lingkungan masyarakat, Saya menata kantor Kelurahan ini kurang lebih sampai satu tahun,” ujar Mantan Kasie Pemerintahan Kelurahan Gambir.
Sauri juga banyak bercerita mengenai dirinya sebagai pemimpin wilayah di Kelurahan Senen, “Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemprov DKI, sehingga saya dipercaya untuk memimpin wilayah Kelurahan Senen,” ujarnya.
Mantan Kasie Sarpras Kelurahan Paseban ini juga menyebutkan, menjadi seorang pemimpin diwilayah itu tidaklah mudah.
“Kita sebagai Pamong, harus bisa mengayomi masyarakat, seperti halnya diwilayah ini warganya memiliki perbedaan suku, agama, pendidikan, tentunya kita harus bisa mengayomi kebawah,” jelasnya.
“Kita juga harus bisa mengerti bagaimana penyampaian bahasa, ketemu dengan siapa kita ini. Memang untuk memahami seseorang itu agak susah, apalagi dengan menggunakan bahasa-bahasa modern. Kita harus memahami kita ini ketemu dengan siapa, bagaimana dengan tingkat pendidikan yang kita temui itu. Barulah peraturan apa saja yang akan kita sampaikan ke warga masyarakat,” paparnya.
Lanjutnya, karateristik wilayah Senen ini, yang jelas memiliki jumlah penduduk yang cukup padat, selain itu juga Senen ini juga merupakan pusat perekonomian. Tentunya banyak hal-hal yang harus kita hadapi dalam memimpin di Kelurahan Senen. Apalagi di kelurahan ini, merupakan salah satu pusat perekonomian besar.
Di Kelurahan Senen kita lihat, ada Terminal Bus, Stasiun Kereta, tempat olahraga, tempat berkumpul, taman dan sebagainya. Namun untuk mengetahui permasalahan yang ada, kita harus selalu berkomunikasi dengan lingkungan seperti RT dan RW.
“Kita harus mengetahui keluhan mereka, kita menerima semua masukkan dari warga, tentunya masukkan warga ini di teruskan ketingkat atas, seperti masalah saluran air, trotoar dan lain sebagainya, yang tadinya tidak baik kita rubah menjadi baik,” ujarnya.
Mantan Sekretaris Kelurahan Kwitang ini menyebutkan, di wilayahnya Kelurahan Senen, memiliki jumlah penduduk sebanyak 8000 jiwa, serta terdapat lima RW dan 34 RT.
Ia juga mengakui di wilayahnya ini ternyata memiliki jumlah penduduk yang padat, namun banyak juga penduduk pendatang, bahkan menurutnya di wilayahnya ini berdasarkan data penduduknya tidak banyak yang tinggal disini.
“Ini menjadi masalah dari kami, bila ada perintah dari pimpinan harus mendata warganya, seperti saat pandemi Covit-19, dengan pendataan lansia yang harus di vaksin. ternyata data yang ada di informasi Dukcapil itu sekitar 8000 lebih, begitu saat mendata dilapangan dengan Dasawisma, ternyata hanya 400 lansia, berarti 50 persen tidak ada,” tambahnya. (Vn)