Makna dan Pesan Wasathiyah Menurut Al-Quran

 Makna dan Pesan Wasathiyah Menurut Al-Quran

MULTAQU Ulama Al-Qur’an Nusantara tahun 2022 di Pesantren Al-Munawwir Krapyak semakin khidmah dengan digelarnya Lailatul Qur’an. Malam kajian ini mengangkat tema “Pesan Wasathiyah Ulama Al-Qur’an”.

Hadir sebagai narasumber, Prof Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, dan KH. Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. Prof Dr. M. Quraish Shihab menyampaikan materinya secara daring.

Ketiga narasumber mendadar makna Wasathiyah. Prof Quraish yang juga pendiri Pesantren Bayt Al-Qur’an Jakarta menjelaskan bahwa untuk dapat bersikap wasathiyah seseorang harus tahu apa makna wasathiyah.

Menurutnya, wasathiyah tidak bisa dimaknai secara tekstual sebagai tengah-tengah. Lebih dari itu, wasathiyah adalah ketegasan seseorang untuk bersikap adil. Ia mengibaratkan seorang wasit di dalam pertandingan sepak bola.

“Seorang wasit yang memimpin pertandingan sepak bola tidak harus selalu berada di tengah, tetapi ia dituntut dapat menegakkan keadilan di lapangan,” terangnya (16/11/2022).

Sementara itu, agar memiliki sikap wasathiyah atau sikap moderat dan toleran, Prof Said Agil Husin Al-Munawwar menjelaskan bahwa seseorang harus mempunyai keluasan ilmu. Hal itu, menurutnya, tidak beda dengan seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an, maka harus memiliki banyak ilmu, khususnya yang terkait dengan Al-Qur’an.

“Makanya tidak disebut ilmu Al-Qur’an, tetapi ‘Ulum Al-Qur’an, karena untuk memahami Al-Qur’an memang harus menguasai banyak ilmu,” jelas Pakar Al-Qur’an UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Adapun Gus Baha menekankan sikap husnuzan agar seseorang memiliki sikap wasathiyah. Sebab, menurutnya, apa pun sikap seseorang bisa dilihat dan dimaknai dengan berbagai perspektif.

“Misalnya kedatangan saya ke sini, apakah itu baik atau tidak, tergantung bagaimana perspektif yang digunakan,” ucapnya.

Dilihat dari perspektif bahwa kedatangan Gus Baha memberikan wawasan dan ilmu kepada hadirin, mungkin itu baik. “Tetapi bagi santri-santri yang malam ini seharusnya belajar dengan saya, kedatangan saya ke sini mungkin tidak baik,” ujarnya.

Itulah sebabnya, kata Gus Baha, seseorang harus mengedepankan sikap berbaik sangka atau husnuzan.

Lailatul Qur’an merupakan sesi panel puncak dalam event Multaqa Ulama Al-Qur’an Nusantara tahun 2022. Helat ini digelar Kemenag sejak Selasa 15 November 2022.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani mengapresiasi gelaran perdana Multaqa Ulama Al-Qur’an Nusantara. Secara khusus ia menyampaikan terima kasihnya kepada Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

“Pesantren Al-Munawwir adalah tempatnya para penghafal Al-Qur’an. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pesantren Al-Munawwir yang telah bersedia menjadi tuan rumah acara ini,” ujarnya saat memberi sambutan.

Narasumber-narasumber yang dihadirkan dalam Multaqa, menurut Direktur PD Pontren, Waryono terdiri dari berbagai latar belakang. “Mereka bukan hanya teoretisi Al-Qur’an, tetapi juga praktisi yang sehari-hari bersama para santri mengajarkan sekaligus mempraktikkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Mereka, kata Waryono, berasal dari berbagai daerah, antara lain: Makasar, Bogor, Sumedang, Jombang, dan Pati. Ini mencerminkan bahwa Multaqa Ulama Al-Qur’an itu memang dihadiri para ulama dari berbagai daerah di nusantara.

Ia berharap kehadiran para ulama Al-Qur’an di acara ini dapat memberi pencerahan kepada masyarakat luas agar selalu berada di jalan yang benar.

“Apalagi tahun depan kita menghadapi tahun politik, bimbingan guru-guru kita sangat kita perlukan,” harapnya.

Ncank Maeel

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar