
Hilirisasi Sawit dan Bauksit Tingkatkan Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia
Jakarta – Pemerintah terus memperkuat kebijakan hilirisasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus penciptaan lapangan kerja. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di bidang hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau tumbuh 43,3 persen secara tahunan. Angka tersebut setara dengan 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional tahun 2025 yang mencapai Rp1.931,2 triliun dan melampaui target yang ditetapkan pemerintah.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa capaian investasi hilirisasi menunjukkan kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan penerimaan negara, tetapi juga berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia. “Hilirisasi memberikan dampak ekonomi yang tinggi, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga mendorong perekonomian nasional secara berkelanjutan,” ujar Rosan.
Berdasarkan data BKPM, sektor mineral dan batu bara menjadi kontributor terbesar investasi hilirisasi dengan nilai Rp373,1 triliun. Kontribusi tersebut berasal dari komoditas nikel sebesar Rp185,2 triliun, tembaga Rp65,8 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi dan baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 triliun, serta komoditas lainnya Rp18,5 triliun. Selain itu, sektor perkebunan dan kehutanan mencatatkan investasi hilirisasi sebesar Rp144,5 triliun, dengan kelapa sawit dan kayu log menjadi penyumbang utama.
Rosan menegaskan bahwa memasuki 2026 pemerintah akan menggeber hilirisasi kelapa sawit dan bauksit karena dinilai memiliki efek berganda yang besar bagi perekonomian dan tenaga kerja. Ia menjelaskan bahwa hilirisasi bauksit hingga menjadi aluminium memerlukan investasi yang signifikan dan berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. “Hilirisasi kelapa sawit akan terus kita dorong, dan di bauksit juga akan meningkat. Tahun ini bauksit akan masuk ke tahap aluminium, dan investasi aluminium cukup besar,” kata Rosan.
Selain sektor mineral dan perkebunan, hilirisasi juga dilakukan di sektor minyak dan gas bumi serta perikanan dan kelautan. Di sektor migas, realisasi hilirisasi mencakup pengolahan minyak dan gas bumi, sementara sektor perikanan meliputi komoditas garam, tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, hingga tilapia. Diversifikasi sektor ini dinilai mampu memperluas basis industri nasional dan membuka peluang kerja di berbagai daerah.
Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional tahun 2025 meningkat 12,7 persen secara tahunan dan berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja atau tumbuh 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rosan menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan bukti konkret bahwa investasi dan hilirisasi berjalan seiring dalam menciptakan lapangan kerja. “Ini adalah penciptaan lapangan pekerjaan yang tercipta dari total investasi Rp1.931,2 triliun pada tahun 2025,” pungkasnya.




